Jejeran Ruko – Menikah

Ringtone HP flip.

Pesan masuk, “Ditunggu di Mesjid ya”.

Ketik, “otw”, kirim.

Ya, dari cerita sebelumnya (JEJERAN RUKO, JEJERAN RUKO-1, JEJERAN RUKO-DUA JENIS ORANG) terjadi lompatan jauh selama hampir 9 tahun.

Saya sudah di negara dengan langit yang dekat.

Dia juga, kami telah menikah.

Magrib ini, baru selesai sholat. Masih di depan deretan ruko-ruko semi bagus.

Yang entah kapan jadi dipugar.

“Married?” Tanya si pemilik tempat les.

“Congrats!” Senyumnya yang menampakkan kerutan di pinggir matanya.

“Pernikahan itu tentang menerima kekurangan dan kelebihan. Untuk kekurangannya, ingat kelebihannya atau ingat kekuranganmu. Untuk kelebihannya, bersyukurlah.”

Nanti tentu matanya juga akan berkerut seperti itu, tapi tentu saya masih akan nyaman dengan teduhnya. Aamiin.

“Wow! Tahniah tahniah..” Tukang martabak menyalami saya.

” Semoga sakinah mawaddah warahmah.” Tangannya agak kasar.

“Jangan paksakan perubahan pada dirinya. Untuk berubah itu sangat sulit, kita sama-sama tau itu.”

Nanti tentu tangannya juga akan kasar seperti itu, tapi tentu saya masih ingat kalau tangan itu yang mengolah apa yang saya makan dengan lahap. Aamiin.

“Selamat.. ” Murni, si penjual bensin.

“Jadi mengingatkan masa-masa kami dulu.”  Suaminya yang pencemburu berucap.

Suaminya berbisik, “Wanita itu cuma butuh 3 hal. Makan, minum, dan pujian.” Istrinya mendengar, pukulan lembut di lengan.

Nanti tentu saya atau dia, sesekali akan menjadi pencemburu pula, tapi tentu kami akan tetap percaya dan setia. Aamiin.

“Woaa.. tidak ada khabar” Si penjahit mantan penjahat.

“Tapi tak apa, doa yang baik untuk kalian berdua.” Tukang potong rambut menimpali.

“Kami memang tidak sekolah tinggi. Tapi kami ada nasehat untuk mu. Coba untuk inisiatif dan apresiasi.”

“Dan ukur dengan kepantasan.” Rekannya masih menimpali.

Nanti tentu saya dan dia akan saling menimpali cerita satu sama lain, tapi tentu kami akan mengoreksi dengan bijak. Aamiin.

“Menikah, bagus… bagus…” Ucap pegawai warung kebutuhan dapur

“Tinggal dimana sekarang?” Tanyanya ramah

“Usahakan berdiskusi untuk semua hal. Diskusi cerdas. Selain untuk mengisi hari-hari, itu juga akan membuat kalian lebih memahami.”

Nanti tentu ada masa dia tiba-tiba tidak ramah seperti biasanya, tapi tentu saya akan mengingat tanggal apa yang terlewatkan oleh saya. Aamiin.

“Dah kawin ya?” Tanya si penjual bunga

“Kasih lah istrinya bunga..” Promosi tetap walau nampak sedikit lelah.

“Jangan cuma harapkan perhatian. Lelaki juga harus memberikan layanan. Hal-hal kecil yang konsisten kadang lebih bermakna dari sesekali hal besar seperti bunga.”

Nanti tentu dia akan lelah dengan hari-harinya, tapi tentu sebisa mungkin saya bantu disela-sela canda. Aamiin.

“Udah sebulan?” Ceria si penjual roti

“Aniversary beli kue ya? Nanti saya buatkan yang bagus.”  Sambil menghitung uang.

“Istri itu teman. Istri itu partner komunikasi. Jangan biarkan dia bengong ketika bersama.”

Nanti tentu dia akan menghitung-hitung uang dapur, uang sekolah, bill rumah, dan uang-uang lainnya, tapi tentu saya akan berusaha memenuhi itu semua. Aamiin.

“Selamat. Ajaklah istrinya makan disini.” Pelayan kedai India.

“Ajak cicip masakan India.” Sepertinya ada pertandingan bola tadi malam, berdirinya agak sempoyongan.

“Masa depan itu memang tidak bisa diramal. Tapi setidaknya bisa direncanakan.”

Nanti tentu dia tidak akan selalu tegap berdiri, tapi tentu saya siap memapahnya, sekalian dengan rangkulan pundak. Aamiin.

“Selamat abang.. ” Biasanya dia bilang selamat datang.

“Turut berbahagia ya..” Si penjaga toko tujuh sebelas, dengan suara jelas.

“Menikah itu juga menyatukan dua keluarga besar. Kita sebut Ring 1. Saling menjaga perasaan, saling menjaga tindakan.”

Nanti tentu dia akan menjadi pelan dalam berbicara, tapi tentu saya akan lebih mendekatkan telinga mendengar maksudnya. Aamiin.

“Good!” Tukang jual VCD bajakan.

“Jadi macam mana? Happy la? Honeymoon kemana? Nak video referensi?” Ups, semangatnya berlebih.

“Gaji dan rejeki itu dua hal yang berbeda. Kebutuhan dan kemauan juga dua hal yang berbeda.”

Nanti tentu dia terkadang akan terlihat kurang semangat, tapi tentu saya akan mencoba menghibur dan bertanya ada apa. Aamiin.

Telpon.

Dua kali bunyi panggilan. Tutup. Cuma kode kalau saya sudah sampai.

“Hallo…” Senyum

Senyum itu lagi, teduh dan nyaman.

Baju pink, tas sandang, sepatu kecil.

“Apa cerita hari ini di kampus?”

Motor bergerak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s