Psychic Ability

Hari itu, saya berangkat ke tempat pelanggan dengan kereta api. Seperti yang dikatakannya, rumahnya tidak jauh dari stasiun kereta. Sesampainya di stasiun tujuan, saya beristirahat sejenak sembari memakan roti sebagai pengganjal perut. Memperhatikan sekeliling, tampak seorang pengemis berguman pada setiap orang yang lewat.

Ketika seorang pekerja gendut yang lewat, samar-samar terdengar dia berucap, “Babi”.

Wah, sungguh tidak sopannya pengemis ini, pikir saya.

Berikutnya, untuk seorang lelaki kurus, sedikit kurang terurus, masih samar terdengar, “Sapi”

Aneh, lelaki itu tidak nampak seperti sapi.

Begitu seterusnya. Untuk setiap orang yang lewat, terdengar “Kentang”, “Apel”, “Ayam”

Akhirnya roti saya habis, dan saya harus bergegas ke tempat pelanggan.

Ketika saya melewati pengemis itu, dia berguman “Roti”. Karena saya buru-buru, saya tidak menghiraukan kata-kata pengemis tersebut.

Sesampai di tempat pelanggan saya, seorang lelaki dewasa menyambut saya. Seorang pria berbadan agak besar, tegap, gagah yang mengaku sebagai pemilik rumah. Rumahnya cukup besar, berlantai dua, tapi tidak terlalu mewah. Dia meminta saya memperbaiki lantai dapurnya, mengganti empat atau lima keramik.

Dapurnya tidak begitu besar, lumayan rapi, tapi nampak beberapa belatung merayap di lantai. Mungkin tempat sampahnya kurang bersih. Keramik dan semen sudah disiapkan. Pekerjaan sederhana, pikir saya, dan saya dijanjikan bayaran yang lumayan. Dalam dua jam, pekerjaan hampir selesai.

Dari arah depan, terdengar sang pemilik rumah membuka pintu. Sekilas, tampak pengemis yang saya jumpai di statiun sedang berdiri di depan pintu. Sang pemilik rumah memberikan sekadarnya, dan sembari mengucapkan terimakasih pengemis tadi terdengan berkata, “manusia”.

Setelah pekerjaan selesai dan bayaran saya terima, saya berjalan menuju stasiun. Seperti yang saya duga, pengemis tadi kembali saya jumpai ditempatnya. Sebagai rasa penasaran, saya mendekati pengemis tadi sambil meletakkan sedikit uang di depannya. Dia tersenyum, dan saya membuka pecakapan dengan bertanya, mengapa dia berguman untuk setiap orang yang dilewatinya.

Dia pun bercerita, bahwa dia memiliki kemampuan psikis. Saya pun tertarik mendengarnya. Dia melanjutkan ceritanya, bahwa dia bisa mengetahui makanan apa yang terakhir dimakan seseorang. Saya pun tergelak. Ya, tadi pagi saya memang makan roti. Tapi, pikir saya, kemampuan psikis seharusnya bisa menggerakkan benda dari jauh atau memperkirakan masa depan. Kalau hanya mengetahui apa yang orang makan, sungguh kemampuan yang sia-sia.

Kemudian, saya berpisah dengan pengemis itu dan melanjutkan perjalanan saya sambil tersenyum.

 

*adopted from http://www.scaryforkids.com/psychic-ability/ story

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s