Pesta yang Mengkhawatirkan

Satu lagi pesta demokrasi telah dan akan masih berlanjut pada tahun ini. Pesta kali ini cukup unik, dengan segala kejadian yang mendahuluinya dan kejadian selama pesta berlangsung. Pada tulisan kali ini, penulis mencoba merangkum beberapa kejadian-kejadian yang menarik perhatian penulis. Khususnya, kejadian yang membuat penulis khawatir. Kejadian yang nampak dari seorang mahasiswa yang sedang menyelesaikan kuliahnya di luar Indonesia.

Jauh sebelum pesta ini berlangsung, ada dua gugatan yang dilayangkan ke Mahkamah Konstitusi mengenai proses pesta kali ini. Dua gugatan yang diangggap mirip oleh beberapa pengamat hukum tata negara. Namun, oleh salah satu penggugat dinyatakan berbeda karena salah satu gugatan menyertakan solusi. Inti kedua gugatan ini adalah mempertanyakan pemisahan dua bagian pesta didalam rangkaian pesta demokrasi yang akan dilakukan. Satu bagian pesta akan memilih wakil-wakil legislatif dan beberapa bulan setelahnya ada satu bagian pesta lagi yang memilih pemimpin negara.

Kedua penggugat mengkhawatirkan pemisahan pesta ini dan keduanya berharap kedua pesta ini disatukan perhelatannya. Beberapa pertimbangannya antara lain uang yang bisa dihemat dan waktu yang bisa di effisienkan. Penggugat juga mengkhawatirkan terjadinya tawar menawar antar partai politik setelah pesta bagian pertama selesai. Tawar menawar ini dianggap melangkahi hak pemilik suara dalam menentukan pemimpin negara untuk lima tahun kedepan. Tawar menawar yang mirip perdagangan sapi.

Hasil dari gugatan juga mengkhawatirkan. Walaupun dikabulkan, tapi penyatuan kedua pesta ini akan dilakukan pada perhelatan pesta berikutnya. Kalaulah pesta kali ini berjalan lancar dan hasilnya akan berjalan selama 5 tahun, hasil gugatan akan diterapkan pada 2019. Salah satu penggugat membuat analogi menarik mengenai hal ini. Ibarat orang yang sedang mengurus sidang cerai, talak cerai kedua pasangan dikabulkan oleh pihak pengadilan. Akan tetapi, perceraian ini akan berlaku lima tahun kemudian.Jadi pertanyaannya, bagaimana status kedua pasangan selama masa menunggu? Penggugat juga mengkhawatirkan, hasil pesta kali ini memiliki celah untuk digugat lagi karena hal ini. Gugatan yang dilakukan oleh pihak yang tersisih dalam pesta.

Bagian pesta pertama telah berlangsung. Berbagai kejadian yang muncul, kejadian yang memang biasa terjadi dalam pesta-pesta sebelumnya. Diantaranya, keterlambatan logistik pesta, politik beras-baju-amplop, serangan fajar, suara yang dimanipulasi, dan perhitungan suara yang membuat bising. Yang mengkhawatirkan, bagian pesta yang pertama ini juga menambah penghuni rumah sakit jiwa. Penghuni baru ini merupakan para calon yang terlalu berharap banyak menjadi wakil rakyat. Namun apa lacur, harapan terhenti di angan-angan. Bagian pesta yang pertama ini juga menunjukkan seberapa tulus para calon wakil rakyat ini dalam memberi. Ketika tidak sukses menjadi wakil, amplop diminta kembali, kompor harus ditarik, sumbangan masjid dibatalkan, dan jalan kampung diblokir.

Setelah pesta bagian pertama menghasilkan persen-persen suara, maka partai politik sibuk mengatur strategi, menghitung kawan, memetakan lawan, dan menyebarkan opini. Karena hasil pesta pertama tidak membolehkan satu partai mengusung calon pemimpin negara, maka pilihan jatuh pada koalisi beberapa partai. Tiga partai urutan teratas seperti menjadi magnet untuk menerima koalisi partai-partai dengan persen suara lebih rendah. Tentu, dengan tawar menawar seperti yang telah dikhawatirkan sebelumnya.

Dari tiga partai teratas ini, ternyata hanya dua yang memang sudah menetapkan calon pemimpin negara. Satu partai besar dan senior tidak cukup percaya diri untuk mengajukan calon sendiri. Alih-alih, sang ketua partai kesana kemari menawarkan diri untuk bergabung. Hingga di detik-detik terakhir, kemudian bergabung dengan salah satu calon.

Setelah benar-benar ditetapkan hanya dua calon pemimpin negara, kekhawatiran baru muncul. Khawatir akan rakyat yang belum bisa membedakan kampanye negatif dengan kampanye hitam. Khawatir akan rakyat yang mati-matian membela salah satu calon dengan menyebarkan tulisan-tulisan di media social. Khawatir akan kemalasan mengecek validitas sebuah tulisan tentang salah satu calon. Khawatir kebiasaan ini akan juga berlaku pada pesta-pesta kecil pergantian kepala daerah. Khawatir ini akan menjadi bibit-bibit perpecahan. Khawatir akan kebiasaan perilaku fitnah tanpa rasa bersalah.Seperti yang dinyatakan presiden kita dalam pembukaan rapat persiapan pesta bagian kedua, fitnah tidak dibenarkan dalam ajaran agama apapun. Fitnah lebih kejam dari pembunuhan.

Serangan kampanye hitam yang berkembang sangat-sangat melukai semangat demokrasi yang telah lumayan sembuh. Sebuah serangan berupa gambar duka cita pada meninggalnya satu calon disebarkan ke media sosial. Serangan lain mempertanyakan kontrol emosi calon yang satunya. Serangan kampanye juga dikaitkan dengan kasus-kasus hukum sebelum jelas benar-benar terbukti. Serangan tentang pengadaan bus dan serangan tentang kasus Hak Asasi Manusia dibahas berulang-ulang. Bahkan isu dukungan negara adi daya dan isu ibu negara diangkat sebagai usaha kampanye hitam.

Perhatian khusus penulis berikan pada isu etnis yang sangat sensitif pada rakyat Indonesia. Salah satu calon difitnah berasal dari non pribumi. Berbagai bukti lemah dikedepankan agar dianggap menjadi bukti yang kuat. Banyak luka lama akan terbuka kembali dipersekitaran isu ini. Sebagai penawar, definisi menarik antara pribumi dan non pribumi telah disebutkan dalam sebuah pergelaran Tanpa Batas. Pribumi diartikan sebagai putra milik bumi. Yang mana bumi sendiri merepresentasikan negara yang merepresentasikan rakyat. Jadi pribumi dan non pribumi merupakan pemisahan keberpihakan pada rakyat dan ketidakberpihakan. Kesimpulannya, Yap Thiam Hien adalah pribumi. Kwik Kian Gie adalah pribumi. Soe Hok Gie adalah pribumi.

 

Johor Bahru, Malaysia

Yoanda Alim Syahbana, M. Sc.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s