Recap, week in Indonesia

Salam,

 

Hampir tiga minggu nggak update blog, ini baru sempat nulis dengan style pop lagi. Apa yang baru? Ya, betul. Sekarang sedang di Indonesia sejak awal Ramadhan. Berikut laporan kronologisnya.

26/6: Sampai di bumi ibu pertiwi dengan nyanyian Indonesia tanah air beta. Tepatnya di Batam. Sampai di pelabuhan, melewati imigrasi, scan sana, scan sini. Kesalahan pertama ketika sampai di bumi ibu pertiwi berasal dari kuping. Ternyata kuping, selain harus bisa mendengar frekuensi tertentu, harus bisa berperan aktif dalam memahami hubungan sebab akibat.

Jadi, setelah semua administrasi selesai dan si pacar sudah duduk nyaman di kursi tunggu, kembali ke tugas-seorang-pria-macho-dalam-perjalanan, mengurus barang dan tentengan. Satu per satu koper, tas, dan kardus keluar dari mesin scan. Bolak balik ambil dan kumpulkan di satu sudut. Alhamdulillah ada babang porter berbaju orange siap membantu. Ini yang dirindukan dari Indonesia. Orangnya ringan tangan dan mau bekerja. Sigap dan cekatan pula. Kalau semua babang-babang porter seperti ini, pastilah pariwisata Indonesia bisa dibanggakan. Eh..kejauhan ya? Hehe. Tapi kadang, penghasilan yang di dapat belum sebanding dengan tenaga yang di habiskan. Mudah-mudahan gaji babang-babang porter diseluruh Indonesia lancar dan berkah. Boleh Aamiin-nya?

Setelah semua barang terkumpul, babang porter berdiri diam dengan tangan separoh menutupi mulut. Wah, mantap juga pelayanannya, pikir saya. Selesai membantu, babang porter satu ini kembali mengecek kalau-kalau ada tas yang tercecer atau tas yang robek. Kemudian kuping memulai kesalahan pertama ini. Terdengar samar-samar halus babang porter berguman. Saya yang sedang mengitung-hitung barang cuma bisa “Hah?”. Babang porter diam dan kemudian menatap ke arah lain. O.. mungkin kuping belum stabil setelah perjalanan laut. Kuping memang kadang gitu, miriplah kayak naik pesawat, pikir saya. Kemudian, setengah niat setengah tidak, kembali terdengar samar gumaman babang porter. Saya yang masih bengong dan tidak ngeh dengan bisikan porter tadi tetap lanjut mengecek barang. Setelah itu, babang porter pergi dengan langkah gontai menjauh, saya lanjut dengan langkah tanpa rasa bersalah. Kami berpisah langkah.

Ya mudah-mudahan pembaca paham lah ya kalau kuping yang salah dalam adegan ini. Seharusnya kuping paham sebab-akibat. Ada yang namanya “memberikan tip” sebagai akibat, dari sebab “dibantu babang porter”. Mudah-mudahan pembaca mendapat hikmah dari kejadian ini. Boleh Aamiin-nya?

27/6: Setelah kemaren semalaman di Padang, hari ini sudah di Padang Panjang. Kebetulan hari Jum’at, tentunya ada sholat Jum’at. Akhirnya, rindu ceramah Jum’at yang tidak seperti membaca teks pidato, telepaskan. Terasa lebih personal dan manusiawi. Selepas Jum’at, ada mendoa kecil-kecilan menyambut puasa.

Dalam forum mendoa kali ini, saya kembali dengan gagasan awal untuk membuat persona sebagai anak yang ramah dan mudah bergaul. Saya ikut aktif dan lebih banyak pasif dalam obrolan piala dunia dan pilpres. Malamnya, tarawih pertama dan menyalami dan senyum ke buya-buya dan pak tuo-pak tuo di mesjid. Persona, persona. Dan apa yang paling spesial dari setiap malam-malam tarawih? Ya betul! Kerupuk kuah!!!

28/6: Sahur pertama dan hari ini perjalanan ke Padang. Berangkat pagi, perjalanan dua jam, sampai di Padang hampir siang. Puaso tuo. Berbuka dan besok selepas sahur jalan ke Muaro Bungo.

29/6-4/7: sebagai Om yang setahun sekali bertemu dalam tiga tahun belakangan, maka mengakrabkan diri dengan ponakan adalah hal yang wajib. Kemudian, hari-hari di Muaro Bungo=Penambahan berat badan. Sore-sore memenuhi nafsu makan, berjalan-jalan keliling kota dengan keceriaan Ramadhan. Berikut dilampirkan sample keceriaan yang di maksud.

20140702_001

Ya, wanita, buah memang bagus untuk melangsingkan badan.

5/7: sudah kembali ke Padang Panjang. Keluarga baru, kebiasaan kebiasaan baru. Agak sedikit kurang sehat. Biasalah, manja-manja gimana kalau lagi di negri sendiri gini. Kegiatan cuma baca-baca buku demi mencerdaskan kehidupan bangsa.

6/7: Sejalan dengan persona sebagai anak yang ramah dan mudah bergaul, hari ini mencoba menyapa tetangga dan senyum ke orang yang lewat. Mungkin ibu-ibu bertanya-tanya, siapa gerangan anak muda murah senyum ini. Atau bapak-bapak bertanya-tanya, siapa tadi yang menyapanya dengan sebutan “Haji..”. Pokoknya ramah.

Sampailah seorang bapak tua yang sepertinya tinggal di depan rumah lewat. Bapak tua ini bertopi, bersepatu boot, mendorong gerobak semen. Wah, ada kerja bakti sepertinya. Kesempatan menguatkan pesona untuk ikut aktif bergaul kembali menggebu. Awalnya cuma standar senyum kemudian menghampiri bapak tua kemudian mengulurkan tangan. Bapak tua berhenti menyambut uluran tangan.
“Bilo sampai?” tanyanya.
“Awal puaso Pak” senyum. “Kama apak ko?” ramah.
“Pai karajo” jawab si bapak.

Diam. Gagal menguatkan persona.

“Lai lamo disiko?” tanyanya kembali.
“Lai lah Pak. Puaso disiko” senyum.
“Si buih ma?” tanya bapak tua kembali.

Berpikir cepat. Si buih? O..mungkin panggilan rumah atau nama kecil.

“Di belakang Pak. Mancuci.”
“Oo.. iyolah. Apak jalan dulu yo”
“Iyo, pak.” Senyum tipis.

Setelahnya, terjadi percakapan dengan mertua tentang sosok si Buih yang ditanya si bapak. Namun akhir kata, sampai saat ini sosok si Buih tetap misteri dan setiap berpapasan dengan si bapak diusahakan tidak membahas si Buih. si Buih: you don’t know who.

 

Salam,

Yoanda Alim Syahbana

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s