Jejeran Ruko – Chapter I : INTRO

Setelah beberapa minggu tidak bertemu karena kesibukan kampus masing-masing, hari ini kami kencan. Agenda wajibnya, jalan-jalan ke toko buku dan makan di sebuah Kedai India. Satu kebiasaan di toko buku, kami akan saling curi-curi pandang lalu pura-pura cuek. Tapi ada yang berbeda dengan Syarifah hari ini. Seperti ada yang dipikirkannya. Beberapa kali Syarifah nampak bengong dan menatap kosong. Mungkin lapar.

“Lapar ya?” tanyaku

“Em.. sedikit” jawab Syarifah

“Makan dulu yuk? Di kedai masakan India” tanyaku lagi

“Yuk.” dia tersenyum datar

Syarifah memesan mie rebus sementara aku memesan mie goreng. Namun ketika kedua pesanan tersebut datang, kami bertukar menu karena mie rebus Syarifah lebih menggugah seleraku. Syarifah mengalah, selalu begitu. Sambil makan dan bercerita-cerita, Syarifah nampak kurang bersemangat. Berbeda dari kencan-kencan sebelumnya.

“Aku mau putus” ucapnya singkat

“Hah?” sambil tetap menyuap kuah mi rebus

“Iya, kita udahan. Aku bosan. Aku belum terbiasa komunikasi tanpa ketemu langsung. SMS dan telpon nggak cukup buat ngeliat emosi kamu. Aku bingung.”

“Nggak bisa kita cari solusi sama-sama untuk itu?” Kuah mie-nya gurih, kokinya jago nih.

“Akhir-akhir ini aku udah coba sabar dan coba nerima. Tapi, malah akhir-akhir ini aku sering tahan-tahan emosi. Kamu sendiri kadang kurang semangat untuk nelpon”

Iya juga. Kadang karena terlalu sering SMS-an, pas nelpon jadi kehabisan obrolan. Yang aku tanya itu-itu aja.

“Jadi kita sampai disini aja?” Kuah mie-nya sudah habis. Sendok dan garpu sudah kutelungkupkan. Tanda mengapresiasi makanan enak pada sang koki.

“Iya, maaf ya. Tapi kita tetep temenan baik kok. Kamu masih boleh SMS, tapi jangan sering-sering.” Hiburnya.

Aku diam. Ini yang bayar makan harus aku ya?

“Udah dulu ya. Aku duluan.” Dia mengakhiri kencan kami.

“Ini duit makannya aku tinggal” Alhamdulillah.

Ya, lima semester terakhir kami berstatus pacaran. Hari ini, pada semester akhir kuliahku, kami berpisah. Katanya baik-baik, katanya demi kebaikan kami berdua, padahal aku masih perlu Syarifah untuk memberi semangat di akhir-akhir skripsi ini. Begitu pula aku, Erdian, yang maih ingin berjuang bersama merancang masa depan, karena aku terlanjur serius dengan wanita ini. Wanita keturunan arab, yang biasa kupanggil dengan panggilan kehormatan kaumnya, Syarifah.

Dulu, dia masih tahun awal kuliah, sementara aku sudah di semester 3. Sudah senior di fakultasku. Dia dari universitas yang berbeda, sering singgah ke kos-an abangnya sekedar mengantar ransum buatannya. Setelah beberapa kali ngobrol, kami saling bertukar nomor telpon. Komunikasi semakin intens. Aku sering singgah ke kampusnya sekedar mengisi jeda waktu diantara jam-jam kuliah yang kosong. Hampir setiap minggu rutin bertemu. Kadang ada perselisihan kecil, mulai dari cemburu, curiga hingga kelemahan ku dalam mengingat janji.

Sebelum minggu-minggu yang menyita waktuku untuk skripsi, Syarifah praktek kerja lapangan ke pulau seberang selama 3 bulan. Otomatis, pertemuan langsung tidak dimungkinkan. Cukup telpon dan sms yang menghubungkan kami. Karena pulsa telpon pun semakin membengkak, kami mencoba mengatur waktu. Selama masa itu, aku tidak merasakan masalah apa-apa. Aku memahami mungkin dia lelah sepulang praktek kerja, tapi aku masih ingin memberikan cerita dan mendengarkan ceritanya pula.

Setelah dia menyelesaikan praktek kerja, malah aku yang mulai sibuk bimbingan, penelitian, dan menulis. Otakku yang tidak seberapa ini perlu konsentrasi penuh ketika penelitian dan menulis. Maka dari itu, kami kembali mengatur waktu komunikasi dan tidak terlalu sering bertemu.

Mungkin ini penyebab dia merasa ada perubahan dari hubungan kami. Aku pun tidak bisa mengelak dengan mengatakan semuanya baik-baik saja. Kadang, akupun merasa sepi dan merasa Syarifah kurang bersemangat menceritakan harinya. Tapi, aku tidak menyangka Syarifah akan mengambil keputusan seperti ini. Apa daya, keputusannya aku hormati. Apalagi di semester akhir ini, yang terkenal dengan banyaknya hantu-hantu penghambat kelulusan. Kisah seperti ini bakal membahayakan jika terlalu berlarut-larut. Cukup satu atau dua malam aku tidak bisa tidur dan tidak selera makan. Kesimpulanku hanya satu.

Mungkin kami lelah.

Hari-hari setelah berpisah dengan Syarifah mulai perlahan bergerak. Dua kali aku kirim sms menanyakan kabar. Masih dibalas walaupun singkat. Aku rasa cukup untuk menjaga komunikasi walaupun terasa janggal. Aku melanjutkan kesibukan dengan penelitian dan penulisan skripsi.

Hampir-hampir tidak terasa sudah tiga minggu sejak kejadian di Kedai India itu. Sesekali, barang-barang pemberian Syarifah masih mengingatkanku pada dirinya. Senyumnya. Keterpasaannya menerima lelucon dariku dan semua nasehat-nasehatnya tentang cara berpakaianku. Aku memang seorang yang kurang memperhatikan penampilan. Selalu bercelana bahan dan kemeja terkadang membuat orang menyangka aku anak forum religi. Padahal, bukan sama sekali.

Sore itu adikku, Erana, menelpon. Dia menyuruhku singgah ke kos nya. Ada paket makanan yang dikirim ibu kami dari kampung. Hatiku agak berat menyanggupi permintaaannya. Kos Erana terletak di belakang jejeran ruko, tempat kedai India dimana aku berpisah dengan Syarifah. Entah ada hubungannya atau tidak, seingatku sejak kejadian itu, aku tidak pernah menuju atau melewati daerah tersebut. Mungkin insting bawah sadarku secara naluri menghindari memori sendu disana.

Ada daya, paket makanan menang dalam pergulatan batin kali ini. Apalagi ditambah rasa rindu akan masakan ibu. Rasa sendu akhirnya mengalah. Aku berjalan ke depan gang, untuk menyetop angkot ke daerah jejeran ruko semi bagus.

“Ciee.. yang kurusan sejak putus cinta” Kalimat pertama Erana ketika melihatku.

Seingatku, memang setelah kejadian dengan Syarifah, aku menyempatkan singgah di kos adikku ini. Sekedar melapor status terbaruku dan mengingatkanku kalau-kalau abangnya ini bisa khilaf setelah putus cinta. Setelah itu, kami lebih banyak SMS-an. Itupun cuma sesekali, karena kesibukannya menjadi sekertaris di sebuah perusahaan biskuit.

“Nggak tau juga udah turun berapa. Belum ada nimbang berat lagi” jawabku.

“Nih makanan dari ibu. Udah di bagi seadil-adilnya, jadi percaya aja. Lumayan buat bekal seminggu. Mungkin untuk abang bisa jadi sebulan kalau ada program diet gini” Sindirnya.

“Iya, percaya. Makasih ya. Lain kali nggak usah nunggu dari ibu dong. Kamu dong sekali-sekali bikinin makanan lagi. Asal banyak dan tahan lama, abang senang kok. Kalau masalah rasa sih nomor dua, yang penting kenyang.”

“Dasar!. Ya, aku nya kan kadang banyak kerja. Akhir minggu kayak gini pun cuma buat bersih-bersih kos, cuci-cuci, istirahat.”

“Okelah. Yang penting kamu nyaman sama kerjanya. Terus, kalau ada kesempatan training, ikut aja. Tamat SMA kayak kamu gini kan perlu banyak ilmu dan pengalaman. Ngomong-ngomong, kamu sendiri aja di kos?”

“Sekarang yang ngekos tinggal aku. Tapi nanti sore ada teman mau datang. Kakak ingat Nelma? Teman kecil aku. Dia baru sampai disini, lagi nyari-nyari kerja. Mau numpang disini dulu.”

“Nelma? Yang mana? Yang perempuan?”

“Iyalah yang perempuan. Ingat?”

“Hmhmhm… doesn’t ring a bell. Temanmu kan banyak waktu kecil. Kumal semua.”

“Ya, Nelma. Yang agak gendut. Tapi sekarang dia udah cantik lho. Kalau abang mau nunggu, dia janji datang… hmhmhm… setengah jam lagi.” Sambil melirik ke jam dinding.

“Nggak lah. Abang mau lanjutin nulis skripsi di kos. Lain kali deh. Titip salam aja.”

“Oke!”

“Balik dulu ya”

“Hati-hati ya”

Aku singgah ke toko tujuh sebelas di jejeran ruko. Sambil menenteng paket makanan, kasir masih mengucapkan selamat sore dengan muka datar. Sebenarnya tidak ada yang ingin aku beli. Cuma mau ada yang bilangin selamat sore aja. Nasib.

Daripada tidak beli apapun, akhirnya cuma beli snack dan minum. Pas mau bayar, buka dompet, duitnya pas. Nah, ongkos pulang gimana? Pilihannya pulang jalan kaki, bikin lapak untuk minta-minta, atau balik ke tempat Erana minjam duit. Ya, yang paling mungkin cuma pilihan ketiga. Hemat tenaga dan hemat malu. Jadilah aku kembali ke kos Erana.

Di pertengahan jalan, aku beriringan dengan seorang wanita. Wanita dengan koper besar dan sepatu tinggi.Sepertinya baru pulang berpergian. Niat hati hendak membantu, tapi nampaknya dia cukup percaya diri dengan bawaan nya. Peruntungan saya dengan wanita memang agak menurun akhir-akhir ini. Daripada saya kecele dengan berbaik hati menawarkan bantuan.

Di gang senggol ini, aku tidak bisa mendahului si wanita. Tapi, wanita ini berjalan searah dengan kos Erana. Kebetulan sekali.

Jangan-jangan.

“Ini Nelma, bang”

Wow…

“Bang?”

“Hah? O..iya..hai…” senyum, sedikit grogi.

“Nelma, ini abangku, Erdian, masih ingat?” tanya Erana pada Nelma

“Hmhm.. masih, tapi kan udah berubah juga. Dulu kan masih kecil-kecil.”

Cantik, nampak cerdas, pas lah kalau berdampingan denganku. Kyaaa.

“Iya, okelah silahkan beres-beres. Semoga nyaman disini, sabar-sabar sama Erana ya. Ini ada sedikit snack dan minum.” Damn… kenapa baru ketemu sekarang yang secantik ini.

“Na, pinjam duit dong, abang nggak ada ongkos.” Bisikku pada Erana.

“Lho, bisa beliin snack sama minum tapi nggak punya ongkos? Gimana ceritanya?” Tanya Erana balik sambil menyerahkan uang.

“Ceritanya panjang, hehehe…” jawabku singkat.

“Jalan dulu ya.”

“Iya.” Jawab mereka serempak.

Nelma, nama yang tidak biasa untuk wanita secantik itu. Kok jadi deg-deg an gini.

“Bang, geser ke dalam bang..” Pinta supir angkot.

Kok senyumnya manis ya.

“Bang, tolong bang. Kasian ibuk ini.” Logat bataknya keluar

“Hah? Oh.. saya dekat kok Bu. Ibu masuk ke dalam aja.”

“Kalau dekat jalan kaki aja dek.” Dengusnya kesal.

Nelma, maukah kau geser sedikit tempat di hatimu. Biar aku duduk sebelah dalam dan tidak akan turun-turun.

Advertisements

2 thoughts on “Jejeran Ruko – Chapter I : INTRO”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s