Kuis Pertama di Pertemuan ke-6

Setelah hampir 3 minggu berstatus dosen baru di Politeknik Caltex Riau, maka dipertemuan ke-6 pada mata kuliah Teori Algoritma dan Pemograman, saya memutuskan untuk melakukan kuis. Untuk kuis kali ini, saya niatkan untuk tidak mendadak. Sehingga, pada pertemuan ke-5 sudah saya intro dulu ke mahasiswa. Tapi, walaupun sudah di intro, ketika memasuki kelas pada minggu lalu, tetap saja ada mahasiswa yang bertanya,
“Kita kuis pak?”
Mungkin nanti ada juga niat untuk melakukan kuis secara suprise. Biar fair dan seru aja. #smirk

Beberapa mahasiswa nampak hening dan serius sekali menghafal tulisan-tulisan di catatan mereka sementara saya menyiapkan notebook dan proyektor. Saat kondisi begini, sudah lama saya bercita-cita berkata seperti ini.


“Nggak usah dihafal-hafal kali, soal kuisnya objektif kok”.
Lalu, dari muka mahasiswa nampak secercah harapan. Kemudian,
“Iya, objektif. Nomor 1, a dan b. Nomor 2, a dan b, dan seterusnya.”
Lalu kelas mulai riuh kembali. Ini adalah cara untuk mencairkan suasana sebelum ujian yang saya tiru dari salah satu dosen favorit saya ketika masa sarjana dulu.

Kelas saya buka kemudian kertas ujian dan absen dibagikan. Mahasiswa menulis nama, NIM, dan informasi lain pada kertas ujian. Saya beri penjelasan ke mahasiswa tentang durasi kuis dan konsep kejujuran yang saya hargai. Saya juga meminta mereka mengatur tempat duduk seperti suasana kuis seharusnya. Dan kuis pun dimulai.

Kuis saya rancang selama 70 menit, dengan informasi sisa waktu pada 30 menit terakhir, mengingatkan untuk mengecek lagi jawaban mereka pada 15 menit terakhir, dan menanyakan bagi “kaum yang pasrah” untuk mengumpulkan jawaban pada 10 menit terakhir. Jadi, efektif ujian sebetulnya hanya 60 menit.

Selama ujian berlangsung, saya menyadari satu hal dan karna hal tersebut saya bersemangat untuk menulis posting-an ini. Selain, suasana kelas yang lebih tenang dan damai selama kuis berlangsung, ada sudut pandang baru yang saya rasakan. Sudut pandang seorang dosen ketika memberi ujian atau kuis. Selama ini, saya sering berada di posisi peserta ujian atau kuis, tapi kali ini saya berdiri dengan muka serius, kurang senyum, dan hemat kata didepan para mahasiswa.

Ternyata, ada pola gerak-gerik yang hampir seragam dari mahasiswa selama kuis berlangsung. Bahkan, beberapa gerak-gerik memancing saya untuk senyum dan tertawa dalam hati.

Berikut gerak-gerik mahasiswa yang saya amati selama kuis berlangsung:

5 menit pertama: Pada durasi ini, mahasiswa menunjukkan muka serius untuk memahami pertanyaan. Karena saya berusaha mengurangi penggunaan kertas, pertanyaan atau soal kuis kali ini saya tampilkan dengan proyektor. Mahasiswa menatap ke depan, mengerutkan kening, dan menggerak-gerakkan bibir tanpa suara membaca empat soal yang saya tampilkan. Ada juga yang bertanya,
“Soalnya ditulis lagi Pak?”
Saya menjawab singkat,
“Boleh, atau tuliskan nomornya saja.”
Saya ingatkan juga mereka untuk mengerjakan soal yang mudah terlebih dahulu.

15 menit kedua: Pada durasi ini, mahasiswa mulai mengerjakan soal. Beberapa mulai dari soal yang mereka rasa mudah dan cepat untuk menjawab. Rata-rata mereka akan menunduk fokus ke kertas jawaban masing-masing. Suasana kelas begitu khusyuk pada periode ini.

10 menit ketiga: Sepertinya mahasiswa mulai mencoba menjawab pertanyaan yang sulit. Beberapa mahasiswa masuk dalam fase perenungan. Beberapa gerak-gerik yang jelas adalah menatap kosong ke dinding atau lantai, membaca ulang soal, menggerak-gerakkan jari di udara, dan komat-kamit sendiri. Entah seberapa besar pengaruh aktifitas ini terhadap kemudahan memperoleh jawaban, tapi gerak-gerik ini kadang cukup menghibur.

10 menit keempat: Suasana kelas mulai sedikit meriah. Dari bunyi kertas jawaban yang dibolak-balik, meja yang diketuk-ketuk, dan seorang mahasiswa yang berusaha melancarkan pena-nya yang macet. Beberapa mahasiswa mulai gelisah dan aktifitas pinjam-meminjam Tipp-Ex meningkat. Tipp-Ex melayang kesana kemari. Tidak jarang ada percikan emosi jika peminjaman tidak begitu responsif.

10 menit kelima: Aktifitas lirik melirik tapi secara halus mulai terdeteksi. Lirik kanan-kiri dengan metode pura-pura berfikir sambil tertegun melihat kertas jawaban teman. Secara naluriah, setelah mereka melakukan itu, mereka akan mengecek apakah aktifitas mereka diperhatikan oleh saya. Mereka akan melihat ke saya dan jika mereka merasa saya perhatikan dari tadi, mereka akan refleks melanjutkan pura-pura berfikir ke arah yang berlawanan dari saya atau menunduk ke kertas jawaban.

10 menit keenam: Pada durasi ini, aktifitas perenungan akan beranjut ke fase yang lebih meningkatkan konsentrasi. Mereka akan memejamkan mata dan fokus memikirkan jawaban. Beberapa bahkan, menunduk sampai sangat dekat ke kertas jawaban. Bahkan, banyak yang terlanjur, hingga seperti kata praktisi hipnotis “jauh lebih lelap dan jauh lebih dalam”. Beberapa akan terbangun dan kaget, ketika dengan “sengaja” saya ingatkan untuk mengecek kembali hasil jawaban mereka.

10 menit ketujuh: Setelah tampak tidak banyak yang menulis di kertas jawab mereka, saya membuka kesempatan bagi “kaum yang pasrah” untuk mengumpulkan hasil kuis mereka. Dan biasanya, pada masa ini, efek domino akan berlaku. Satu yang menyatakan pasrah, maka yang lain pun akan ikut pasrah. Kelas mulai bingar kembali,  saya merapikan kertas jawaban, dan mulai melakukan pembahasan terhadap kuis yang baru mereka lalui.

Well then, ada yang punya pengamatan atau pengalaman serupa? Silahkan berbagi di bagian komentar…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s