Anggota Termuda di Koperasi Karyawan PCR

Setelah kurang lebih 5 bulan bergabung di Politeknik Caltex Riau (PCR), penulis juga telah bergabung dengan koperasi karyawan yang ada di PCR.

Minggu kemarin 27/2/2015, telah diadakan Rapat Akhir Tahun koperasi yang ketiga. Penulis sebagai anggota tentu diundang. Penulis yang masih baru dalam hal-hal seperti ini cukup menikmati diskusi-diskusi antar anggota koperasi sebelum acara dimulai. Sebagian besar diskusi selalu diselingi dengan gelak tawa sebab seperti itulah iklim karyawan disini ketika berkumpul. Ada yang berdiskusi konsep hutang dalam hidup yang ujung-ujungnya membahas trik mendapat persetujuan istri ketika ingin membuka pinjaman hutang. Ada pula yang membandingkan skema pinjaman antar bank yang kemudian malah punya ide untuk menerapkan konsep member-get-member untuk menjaring nasabah baru.

Acara rapatnya cukup serius. Dihadiri oleh pejabat pemerintah dari dinas terkait dan dibuka oleh direktur PCR, Pada rapat ini, koperasi karyawan PCR juga mendapat sertifikat penghargaan karena telah berhasil mengadakan Rapat Akhir Tahun tepat waktu.

Setelah seremonial pembukaan acara, ada agenda diskusi antar anggota koperasi. Satu isu yang cukup alot dibicarakan adalah tentang konsep sistem peminjaman pada koperasi. Pada sistem peminjaman yang sudah ada, koperasi karyawan PCR persis seperti koperasi konvensional pada umumnya. Nilai maksimum peminjaman diukur berdasarkan gaji dan koperasi berhak menetapkan jasa atas peminjaman yang dilakukan anggota.

Beberapa anggota mencoba merubah sistem ini karena dikhawatirkan ada unsur riba didalamnya. Usulannya, sistem baru diharapkan lebih berbasis syariah.

Pengurus dan pengawas koperasi menawarkan dua konsep baru untuk mengakomodasi usulan ini. Pertama, pinjaman dalam bentuk uang dibatasi sampai Rp. 3.000.000,- dan pinjaman ini tidak dikenakan jasa. Konsep pertama ini untuk mengakomodir kebutuhan mendesak dari anggota seperti musim anak masuk sekolah dan biaya pengobatan.

Kedua, pinjaman diatas Rp. 3.000.000,- tidak dalam bentuk uang. Akan tetapi, calon peminjam akan ditanya kegunaan uang yang dipinjam untuk apa. Jika uang tersebut akan dibelikan barang, koperasi akan membeli barang tersebut dan membuat akad jual beli dengan calon peminjam. Kemudian, peminjam akan mengangsur hingga barang tersebut lunas. Konsepnya seperti berdagang, koperasi berhak mengambil untung, dan kedua belah pihak terhindar dari riba.

Beberapa anggota setuju untuk usulan ini. Akan tetapi, beberapa yang lain tidak satu suara dengan ini. Anggota lain lebih nyaman dengan konsep yang lama. Sejauh yang bisa penulis ingat, alasannya adalah tidak semua kebutuhan peminjaman berbentuk barang. Ada kalanya untuk melunasi hutang di tempat lain. Mereka merasa lebih fleksibel untuk meminjam berbentuk uang dan terserah mereka akan digunakan untuk apa. Terkait dengan riba, anggota ini berasumsi bahwa jasa yang diperoleh koperasi juga akan dikembalikan ke anggotanya. Sehingga, tidak termasuk riba.

Diskusi berlangsung cukup alot untuk mempertahankan konsep dari kedua belah pihak. Penulis sendiri berharap akan ada berbalas pantun seperti kebiasaan orang melayu. Adapula usulan untuk memisahkan keuangan dari menjadi dua bagian sesuai konsep masing-masing. Sehingga, uangnya dan sisa hasil usahanya tidak tercampur. Akan tetapi, pengurus keberatan dengan konsep hybrid ini karena merepotkan sekali.

Pada akhirnya dan juga dikarenakan waktu, keputusannya tetap menggunakan sistem yang lama sembari dipelajari konsep koperasi syariah.

Setelah penulis pikir-pikir, sepertinya ada jalan tengah untuk masalah ini. Satu pihak akan terhindar dari riba sedangkan pihak lain tetap fleksibel untuk menggunakan uangnya. Ada satu alat tukar yang bisa menjembatani kebutuhan kedua belah pihak. Alat tukar tersebut adalah EMAS.

Jalan tengah ini akan mengganti barang yang akan dibeli dengan emas. Jadi, calon peminjam tidak akan membeli barang dari uang yang dipinjam. Dia hanya mengatakan akan membeli emas. Koperasi kemudian membelikan emas yang diinginkan peminjam. Kemudian ada akad jual beli antara koperasi dan peminjam untuk sejumlah emas. Setelah menerima emas ini, terpulang kepada sipeminjam apakah akan menjual emas tersebut untuk mendapat uang tunai atau menyimpannya sebagai bentuk investasi.

Kenapa tidak disampaikan ketika dua belah pihak berdebat?

Alasannya, ide ini muncul secara tiba-tiba. Belum dipikirkan secara mendalam dan penulis belum mempelajari konsep koperasi syariah yang sudah ada. Dengan dangkalnya ilmu agama dan awamnya penulis pada bidang keuangan, penulis khawatir konsep ini ada cacatnya.

Jadi, melalui tulisan ini penulis juga meminta tanggapan dan saran dari para pembaca mengenai ide ini. Silahkan dibagian komentar.

*Terkhusus kepada Bapak Heri R. Yuliantoro, sebagai follower blog saya yang dengan latar belakang keuangan, ditunggu komentar atau postingan balasan untuk tulisan saya kali ini. Terima kasih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s