Cabe Hijau, Cabe Merah

“Kenapa sih cabe masih hijau udah dijual? Kan ditunggu sampe merah, harganya bisa lebih mahal?”

Tanya si Om pada jalan pagi kami kali ini.

Pada masa itu, semua keluarga sedang di Aceh. Saya ditinggal sendiri di Padang. Siangnya di rumah, malamnya numpang tidur di rumah Om dan Tante yang sudah seperti orang tua saya sendiri. Setiap pagi, saya dan Om sering jalan pagi. Setiap pagi pula, si Om cerita pengalaman hidupnya dan hal-hal random lain yang menarik perhatiannya. Pagi ini, perhatian si Om jatuh kepada cabe hijau dan cabe merah.

“Iya juga ya Om” Jawab saya yang juga tidak tahu jawaban pertanyaan itu. Akan tetapi, argumen si Om benar. Om sebagai  orang yang tidak memiliki latar berlakang pertanian.

Pertanyaan si Om pula yang saya bawa ke Malaysia ketika menempuh pendidikan Magister. Mengisi hari-hari riset di kampus, saya dan teman-teman Indonesia lain menekuni hobi berladang. Kebetulan, rumah yang kami tempati memiliki pekarangan yang luas. Kami menanam jagung, terong, tomat, bayam, pario dan kebutuhan dapur seperti daun kunyit, jahe, lengkuas dan cabe.

“Ba a kok lado hijau ko dijua urang, Da? Kan kalau batunggu sampai merah labiah banyak untuangnyo?” Tanya saya pada seorang abang (Uda), yang berpengalaman dalam berladang.

“Nyo kadang pas hijau, lah ado kanai panyakik daun karitiang.” Jawab si Uda.

“Kok ditunggu sampai merah, ndak manjadi. Malah rugi malah.” Jelas si Uda lebih jauh lagi.

Oke, penjelasan yang logis dari si Uda. Saya paham dan mulai melupakan pertanyaan si Om.

Sampai pada suatu kesempatan, saya melakukan visitasi beasiswa dari kampus untuk anak-anak kurang mampu. Ibu salah satu calon penerima beasiswa berprofesi sebagai petani. Menerima upah dari pemilik kebun untuk merawat ladang cabe. Selesai tanya jawab terkait beasiswa, maka saya iseng menanyakan pertanyaan si Om ke si Ibu. Tujuannya hanya untuk bahan obrolan.

“Bu, kok lado ko lah bajua pas lah hijau? Kan murah haragonyo daripado lado merah? Ba a ndak ba tunggu se nyo merah?” Tanya saya.

“Kalau ndak bajua, ndak ado yang ka dimakan di rumah.” Jawab si Ibu.

Dan pada saat itu saya bersyukur atas apa yang saya punya.

Chilli

Sebuah pertanyaan bisa memiliki lebih dari satu jawaban benar.
Kebenaran jawaban bergantung kepada siapa kita bertanya.
Beruntunglah yang bisa mengambil ilmu dari setiap jawaban.

Advertisements

4 thoughts on “Cabe Hijau, Cabe Merah”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s