Ditiup

Hari yang terik disebuah pasar
Sedari pagi kami berjalan hampir tersasar
Terbayang sebuah minuman
Mengalir membasahi kerongkongan

Di depan kami, sebuah emperan
Kelapa muda dengan es dijajakan
Di depan kami, obat dahaga itu
Tersusun memanggil bisu

Ibu penjual sedang makan siang
Lahap, sebuah nasi padang
Kalio jengkol mengkilat
Lahap, berwarna coklat pekat

Kami pun memesan sebungkus es kelapa muda
Mengganggu prosesi makan khusyu
Si ibu mencuci tangannya segera
Melayani pembeli yang berkodrat raja semu

Melayang membanting parang pada atas kelapa
Satu per satu dikuak kulit muda kelapa
Layang banting parang mengena pucuk isi kelapa
Terpancar sedikit lelehan air kelapa

Si Ibu mengambil plastik bening
Jantung kami berdegup
Dalam satu helaan nafas
Si Ibu meniup plastik agar mengembang

Ditiup, ya ditiup, ditiup, ya ditiup
Yang tampak, plastik mengembang terisi karbondioksida
Yang samar, plastik terkena sedikit cipratan liur
Yang tak tampak, sedikit bonus partikel jengkol mungkin

Kami saling berpandangan
Si Ibu menyalin air kelapa muda ke plastik
Memberi pipet dan mengikat dagangan
Memberikan bungkusan ke kami yang masih tak berkutik

Ditiup, ya ditiup, ditiup, ya ditiup
Kami kemudian menyerahkan uang delapan ribu
Membawa bungkusan menjauh emperan
Berjalan lunglai, menenteng belanja

Pada belokan ruko berikutnya
Es kelapa muda melayang ke tong sampah
“Nyo hambuihnyo pulo…”
Rapal mantra pelempar kekesalan

*Cerita Desniwarni Sadar dan Cika 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s